Pengertian UKM (Usaha Kecil Menengah)

Januari 20, 2018 | Penulis: | Posted in Ekonomi

Pengertian UKM (Usaha Kecil Menengah) – Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan bagian penting dari perekonomian suatu negara atau wilayah, serta negara Indonesia. UKM ini memiliki peran yang sangat penting dalam kecepatan ekonomi masyarakat.

UKM juga sangat membantu negara atau pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan melalui UKM juga menciptakan banyak unit unit kerja baru yang menggunakan pekerja baru yang dapat mendukung pendapatan rumah tangga.

Selain itu UKM juga memiliki fleksibilitas yang tinggi bila dibandingkan dengan bisnis dengan kapasitas lebih besar. UKM ini perlu mendapat perhatian khusus dan didukung oleh informasi yang akurat, sehingga ada hubungan bisnis directional antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan unsur daya saing bisnis, yaitu jaringan pasar.

 

Pengertian UKM

pengertian ukm

Seblak Ceuri adalah Produk UKM

Usaha kecil menengah disingkat SME adalah istilah yang mengacu pada jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan bisnis yang berdiri sendiri.

1. Menurut Keputusan Presiden No. 99 tahun 1998
Pengertian Usaha kecil menengah: Kegiatan ekonomi masyarakat berskala kecil dengan bisnis yang sebagian besar merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah persaingan usaha tidak sehat.

2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
Pengertian Usaha kecil menengah: Berdasarkan jumlah tenaga kerja. Usaha kecil adalah badan usaha yang memiliki tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah adalah badan usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.

3. Sesuai Keputuasan Menteri Keuangan Nomor 316 / KMK.016 / 1994 tanggal 27 Juni 1994
Pengertian Usaha Kecil Menengah: Ditetapkan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan usaha yang memiliki penjualan atau perputaran per tahun setinggi Rp 600.000.000 atau aset atau kekayaan setinggi Rp 600.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan yang diduduki) terdiri dari:

– Bidang usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi)
– Individu (Pengrajin / industri rumahan, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang dan jasa)

4. Menurut UU No. 20 Tahun 2008
Pengertian Usaha kecil menengah: Hukum dibagi menjadi dua istilah:
Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut:

– Nilai bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan maksimum Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

– Memiliki penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Sementara itu, yang disebut Usaha Menengah adalah badan usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut:

Baca Juga:  Pengertian Peluang Usaha Menurut Para Ahli

– Bersih senilai lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan maksimum Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

– Melakukan penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

Pengertian dan Kriteria UKM oleh Instansi dan Beberapa Negara Asing

Pada prinsipnya, pengertian dan kriteria UKM di luar negeri didasarkan pada aspek berikut:
– Jumlah tenaga kerja
– Pendapatan
– Total aset

Inilah kriteria UKM di mancanegara dan institusi.

1. Bank Dunia, membagi UKM menjadi 3 jenis, yaitu:

Medium Enterprise, dengan kriteria:
– Jumlah karyawan maksimal 300 orang.
– Pendapatan per tahun sampai $ 15 juta.
– Total aset sampai $ 15 juta.

Usaha Kecil, dengan kriteria:
– Jumlah karyawan kurang dari 30 orang.
– Pendapatan per tahun tidak melebihi $ 3 juta.
– Jumlah aset tidak melebihi $ 3 juta.

Micro Enterprise, dengan kriteria sebagai berikut:
– Jumlah karyawan kurang dari 10 orang.
– Pendapatan per tahun tidak melebihi $ 100 ribu.
– Jumlah aset tidak melebihi $ 100 ribu.

2. Singapura mendefinisikan UKM sebagai bisnis yang memiliki minimal 30%
pemegang saham lokal dan aset produktif tetap di bawah SG $ 15 juta.

3. Malaysia mendefinisikan UKM sebagai bisnis yang memiliki pekerja tetap kurang dari 75 orang atau yang memiliki modal pemegang saham kurang dari M $ 2,5 juta. Definisi ini terbagi menjadi dua, yaitu:

– Industri Kecil (SI), dengan kriteria jumlah karyawan 5 – 50 orang atau jumlah modal saham sampai sejumlah M $ 500 ribu.

– Medium Industry (MI), dengan kriteria jumlah karyawan 50 – 75 orang atau total modal saham sampai M $ 500 ribu – M $ 2,5 juta.

4. Jepang membagi UKM sebagai berikut:
– Pertambangan dan manufaktur dengan kriteria maksimal karyawan 300 orang atau jumlah modal saham sampai dengan US $ 2,5 juta.

– Grosir dengan jumlah maksimal jumlah karyawan 100 orang atau total modal saham hingga US $ 840 ribu.

– Ritel dengan kriteria jumlah maksimal karyawan 54 orang atau jumlah modal saham hingga US $ 820 ribu.

– Layanan dengan kriteria maksimal karyawan 100 orang atau total modal saham hingga US $ 420 ribu.

5. Korea Selatan mendefinisikan UKM sebagai bisnis dengan jumlah total di bawah 300 orang dan total aset kurang dari US $ 60 juta.

6. Komisi Eropa, membagi UKM menjadi 3 jenis, yaitu:

Enterprise berukuran sedang, dengan kriteria sebagai berikut:
– Jumlah karyawan kurang dari 250 orang.
– Pendapatan per tahun tidak melebihi $ 50 juta.
– Jumlah aset tidak melebihi $ 50 juta.

Baca Juga:  Pengertian Resiko Usaha dan Jenisnya

Enterprise berukuran kecil, dengan kriteria sebagai berikut:
– Jumlah karyawan kurang dari 50 orang.
– Pendapatan per tahun tidak melebihi $ 10 juta.
– Jumlah aset tidak melebihi $ 13 juta.

Enterprise berukuran mikro, dengan kriteria:
– Jumlah karyawan kurang dari 10 orang.
– Pendapatan per tahun tidak melebihi $ 2 juta.
– Jumlah aset tidak melebihi $ 2 juta.

Klasifikasi UKM
Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok:
1. Kegiatan Mata Pencaharian: Merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih dikenal sebagai sektor informal. Contoh: jajanan jalanan.

2. Usaha Mikro: Merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin namun tidak memiliki sifat kewirausahaan.

3. Small Dynamic Enterprise: UKM yang sudah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima subkontrak dan ekspor kerja.

4. Fast Moving Enterprise, merupakam UKM yang sudah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Big Enterprise (UB).

Hukum dan Regulasi UKM
Beberapa undang-undang dan peraturan tentang UKM:

1. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.
2. PP. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan.
3. PP. 32 Tahun 1998 tentang Pengembangan dan Pengembangan Usaha Kecil.
Inpres no. 10 tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah.
5. Keputusan Presiden. 127 Tahun 2001 tentang Bidang / Jenis Usaha Milik. Untuk Usaha Kecil dan Bidang Bisnis / Jenis Usaha Terbuka Untuk Usaha Menengah atau Besar Dengan Ketentuan Kemitraan.

6. Keputusan Presiden. 56 Tahun 2002 tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah.

7. Permenneg BUMN Per-05 / MBU / 2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Program Usaha Kecil dan Bina Lingkungan.

8. Permenneg BUMN Per-05 / MBU / 2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara.

9. UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Peran UKM
Peran UKM merupakan bagian penting dari setiap perencanaan tahap pembangunan yang dijalankan oleh dua departemen:

1. Departemen Perindustrian dan Perdagangan
2. Dinas Koperasi dan UKM

Namun, upaya pengembangan yang telah diimplementasikan masih terlihat memuaskan, perkembangan UKM masih sangat kecil dibanding bisnis besar.

Kegiatan UKM mencakup berbagai kegiatan ekonomi, namun sebagian besar berbentuk usaha kecil yang beroperasi di sektor pertanian. UKM juga memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena itu selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil pembangunan. Kebijakan yang tepat untuk mendukung UKM seperti: – Perizinan

– Teknologi
– Struktur
– manajemen
– Pelatihan
– Pembiayaan

Baca Juga:  Pengertian Resiko Usaha dan Jenisnya

Masalah yang dihadapi UKM adalah sebagai berikut:

Faktor internal:
Sebuah. Kekurangan modal-modal merupakan faktor utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan unit bisnis. Kurangnya modal UKM, karena pada umumnya usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang tertutup.

b. Sumber Daya Manusia Terbatas
Keterbatasan sumber daya manusia usaha kecil baik dari sisi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilan sangat berpengaruh terhadap pengelolaan manajemen bisnis, sehingga usaha ini sulit berkembang secara optimal.

c. Jaringan Bisnis Lemah dan Kemampuan Penetrasi Usaha Kecil
Jaringan usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi yang rendah maka jumlah produk yang dihasilkan sangat terbatas dan memiliki kualitas yang kurang kompetitif.

Faktor eksternal:

Sebuah. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif bagi kebijakan Pemerintah untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM). Terlihat dari persaingan yang masih tidak sehat antara pengusaha kecil dan pebisnis besar.

b. Fasilitas dan Prasarana Bisnis Terbatas
Kurangnya informasi yang berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan sarana dan prasarana yang mereka miliki juga tidak berkembang pesat dan kurang mendukung kemajuan bisnis.

c. Akses pasar terbatas
Akses pasar akan menyebabkan produk yang dihasilkan tidak bisa dipasarkan secara kompetitif baik di pasar nasional maupun internasional.

Upaya Pengembangan UKM
Perlu mengejar hal-hal berikut:

Sebuah. Penciptaan iklim usaha yang kondusif Memastikan keamanan bisnis dan perdamaian dan penyederhanaan prosedur perizinan usaha, keringanan pajak dll.

b. Perlindungan bisnis terhadap jenis jenis tertentu Terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha kelompok ekonomi lemah, harus mendapat perlindungan dari pemerintah baik melalui peraturan perundang-undangan maupun peraturan pemerintah.

c. Mengembangkan Promosi
Untuk lebih mempercepat kemitraan antara UKM dan bisnis besar.

Peran usaha kecil dan menengah
Peran UKM dalam ekonomi tradisional diakui sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi UKM terhadap lapangan kerja, distribusi pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan sebagai pendorong peningkatan ekspor manufaktur atau non migas. Ada beberapa alasan pentingnya pengembangan UKM:

– Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi UMKM dalam memperoleh bahan baku dan peralatan. Relevansi UKM terhadap proses desentralisasi kegiatan ekonomi untuk mendukung integritas kegiatan di sektor ekonomi lainnya. Potensi UKM dalam menciptakan dan memperluas lapangan kerja.

– Peran UKM dalam jangka panjang sebagai dasar untuk mencapai kemandirian ekonomi karena UKM pada umumnya dibudidayakan oleh pengusaha dalam negeri dengan menggunakan impor rendah.

Penulis:

This author has published 758 articles so far. More info about the author is coming soon.

Tinggalkan Balasan