Pengertian Sistem Ekonomi Ali Baba

Januari 23, 2018 | Penulis: | Posted in Ekonomi

Pengertian Sistem Ekonomi Ali Baba – Pada masa pemerintahan Ali Sastroamidjojo I (Agustus 1954 – Agustus 1955), Bapak Iskaq Cokrohadisuryo memperkenalkan sistem ekonomi baru yang dikenal dengan sistem ekonomi Ali-Baba. Artinya, bentuk kerjasama ekonomi antara pengusaha pribumi yang teridentifikasi dengan Ali dan penguaha Tionghoa diidentifikasi dengan Baba.

Sistem ekonomi ali baba merupakan penggambaran ekonomi pribumi – China. Sistem ekonomi Ali Baba digambarkan dalam dua tokoh, yaitu: Ali sebagai pengusaha pribumi dan Baba digambarkan sebagai pengusaha non-pribumi yang diarahkan pada pengusaha China.

Dengan penerapan kebijakan Ali-Baba, pengusaha pribumi diharuskan memberikan latihan dan tanggung jawab kepada personil Indonesia untuk menempati posisi staf. Pemerintah memberikan kredit dan lisensi untuk bisnis swasta nasional. Pemerintah memberikan perlindungan agar bisa bersaing dengan perusahaan asing yang ada.

Program ini tidak bisa berjalan baik karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman sehingga hanya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Pengusaha non-pribumi lebih berpengalaman mendapatkan bantuan kredit.

pengertian sistem ekonomi alibaba

pengertian sistem ekonomi alibaba

Tujuan dan Hambatan Sistem Ekonomi Ali Baba
Tujuan dari program ini adalah:
Mempromosikan pengusaha pribumi.
Agar pengusaha pribumi bisa bekerja sama untuk memajukan perekonomian nasional.
Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta pribumi untuk merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
Mempromosikan ekonomi Indonesia memerlukan kerja sama antara pengusaha pribumi dan non-pribumi.

Sistem ekonomi ali baba kemudian didukung oleh:
Pemerintah yang memberikan lisensi kredit dan lisensi untuk bisnis swasta nasional
Pemerintah memberikan perlindungan bagi pengusaha nasional untuk bersaing dengan pengusaha asing

Sistem ekonomi lebih menekankan pada kebijakan-kebijakan Indonesiaisasi yang mendorong pertumbuhan pengusaha swasta pribumi. Implementasi sistem ekonomi Ali-Baba tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengusaha pribumi akhirnya hanya berfungsi sebagai alat bagi pengusaha China untuk mendapatkan kredit dari pemerintah.

Baca Juga:  Pengertian Sistem Ekonomi Komando (Terpusat)

Memasuki era Demokrasi Terpimpin, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah. Namun, kondisi kehidupan masyarakat terus menderita. Kondisi buruk ini diperparah dengan distribusi bahan makanan yang tak terhindarkan dari sentra produksi daerah konsumsi akibat pemberontakan di berbagai daerah.

Sementara itu, jumlah uang beredar meningkat seiring pemerintah terus mencetak uang tanpa kontrol. Uang itu digunakan untuk membiayai proyek mercusuar, seperti the Games of New Emerging Forces (Ganefo) dan Konferensi New Emerging Forces (Conefo). Akibatnya, inflasi semakin tinggi dan mencapai hingga 300%. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan dengan pemotongan nilai mata uang.

Misalnya Rp.500,00 seharga Rp.50.00 dan Rp.1000,00 seharga Rp.100.00. Tindakan pemerintah tidak meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat.

Sistem ekonomi Ali-Baba pada awalnya bertujuan memberi kesempatan kepada pengusaha untuk memajukan perekonomian Indonesia saat itu dengan memberikan dana segar kepada pengusaha. sistem ini gagal karena:
Kredit yang digunakan tidak digunakan oleh pengusaha pribumi (indonesia) untuk mendapatkan keuntungan namun beralih ke pengusaha Cina secara sepihak.

Pinjaman tersebut pada awalnya ditujukan untuk mendorong kegiatan produksi namun malah dialihkan untuk konsumsi
Kegagalan pengusaha pribumi dalam memanfaatkan kredit secara maksimal sehingga berdampak kurang positif terhadap perekonomian Indonesia saat itu.

Alasan kegagalan Kabinet Ali
Jatuhnya akibat masalah di Angkatan Darat, yaitu kepemimpinan tentara menolak kepemimpinan baru yang diangkat oleh Menteri Pertahanan terlepas dari norma-norma yang berlaku di dalam Angkatan Darat.
Persaingan ideologis juga terlihat di badan penyusun. Saat itu negara sedang dalam keadaan kacau akibat turbulensi di wilayah tersebut.
Persaingan antara kelompok agama dan nasionalis yang berlangsung sampai awal 1960-an mengakibatkan situasi politik nasional yang tidak stabil. Hal ini sangat mengganggu pelaksanaan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah.
Ingin menyatukan pengusaha pribumi & tionghoa, namun gagal karena pengusaha pribumi lebih konsumtif daripada pengusaha China yang menghasilkan lapangan korupsi dan kolusi.
Masyarakat adat yang dilatih dan mengalami terlalu sedikit
Masyarakat adat tidak memiliki modal yang kuat dan hampir tidak mungkin bersaing

Baca Juga:  Pengertian Sistem Ekonomi Pasar (Liberal)

Penulis:

This author has published 758 articles so far. More info about the author is coming soon.

Tinggalkan Balasan