Pengertian Bank Syariah dan Fungsi serta Tujuannya

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Atas Artikel --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:250px;height:250px" data-ad-client="ca-pub-9651047003144770" data-ad-slot="3596673541"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Pengertian Bank Syariah – Bank syariah adalah sistem Bank yang penerapannya didasarkan pada hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini didasarkan pada larangan Islam untuk meminjamkan atau mengumpulkan pinjaman dengan meminjam bunga (riba), dan larangan untuk berinvestasi dalam usaha terlarang kategori terlarang (terlarang).

Sistem Bank konvensional tidak dapat menjamin tidak adanya hal-hal semacam itu dalam investasi mereka, misalnya dalam bisnis yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman yang tidak sah, media Islam atau usaha hiburan, dan sebagainya.

Meskipun prinsip-prinsip ini mungkin telah diterapkan dalam sejarah ekonomi Islam, tidak sampai akhir abad ke-20 bank-bank Islam mulai menerapkannya pada institusi komersial swasta atau semi-swasta di komunitas Muslim di dunia.

 

Sejarah Bank Syariah

pengertian bank syariah
pengertian bank syariah

Bentuk awal ekonomi pasar dan merkantilisme, yang oleh beberapa ekonom disebut “kapitalisme Islam”, telah mulai berkembang antara abad ke-8 dan 12. Perekonomian moneter pada periode tersebut didasarkan pada mata uang dinar yang beredar luas, yang membawa wilayah-wilayah yang sebelumnya secara ekonomi independen.

Pada abad ke-20, kelahiran Bank syariah tidak dapat dipisahkan dari kehadiran dua gerakan kebangkitan kembali Islam modern, gerakan neorevivalis dan modernis. [2] Sekitar tahun 1940an, di Pakistan dan Malaysia telah dilakukan upaya pengelolaan dana peziarah non-konvensional. Pada tahun 1963, Bank Perkreditan Rakyat Islam didirikan di desa Mit Ghamr di Kairo, Mesir.

Bank syariah secara global tumbuh pada 10-15% per tahun, dan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang konsisten di masa depan. Laporan dari Asosiasi Internasional Bank Syariah dan analisis Prof. Khursid Ahmad menyebutkan bahwa sampai tahun 1999 ada lebih dari 200 lembaga keuangan Islam yang beroperasi di seluruh dunia, yaitu di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan juga negara-negara lain di Eropa, Australia, dan Amerika.

Diperkirakan ada lebih dari 822 miliar aset di seluruh dunia yang dikelola sesuai prinsip syariah, menurut analisis majalah The Economist. Ini mencakup sekitar 0,5% dari total perkiraan aset dunia pada tahun 2005. Analisis perusahaan induk CIMB Group menyatakan bahwa pembiayaan syariah adalah segmen sistem keuangan global yang tumbuh paling cepat, dan penjualan obligasi syariah diperkirakan meningkat 24% menjadi US $ 25 miliar di tahun 2010.

 

Prinsip Bank syariah

Bank syariah memiliki tujuan yang sama seperti Bank konvensional, agar lembaga Bank bisa menghasilkan keuntungan dengan meminjamkan modal, tabungan, membiayai kegiatan usaha, atau kegiatan lain yang sesuai. Prinsip hukum Islam melarang unsur-unsur berikut dalam transaksi Bank ini:

  • Perdagangan barang haram,
  • Bunga (ربا riba),
  • Perjudian dan spekulasi yang disengaja (ميسر maisir), serta
  • Tidak jelas dan manipulatif (غرر gharar)
Baca Juga:  Peran Bank Syariah dalam Perekonomian Negara

Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional adalah sebagai berikut:

Bank syariah
Lakukan hanya investasi yang sah menurut hukum Islam
Menggunakan prinsip pembagian keuntungan, jual beli
Berorientasi pada keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam)
Hubungan dengan pelanggan dalam bentuk kemitraan
Pengumpulan dan penyaluran dana sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.

Bank Konvensional
Lakukan investasi yang baik yang halal atau haram sesuai hukum Islam
Gunakan perangkat tingkat suku bunga
Mengutamakan keuntungan
Hubungan dengan nasabah berupa kreditur
Pengumpulan dan pencairan dana tidak diatur oleh dewan serupa
Afzalur Rahman dalam bukunya Islamic Doctrine on Banking and Insurance (1980) berpendapat bahwa prinsip Bank syariah bertujuan untuk memberi manfaat bagi nasabah, karena menjanjikan keadilan sesuai syariah dalam sistem ekonominya.

Produk Bank syariah

Beberapa produk layanan yang disediakan oleh bank berbasis syariah meliputi:

Titipan atau deposito
Al-Wadi’ah (layanan pembibitan), adalah layanan penggalangan dana dimana kustodian dapat mengambil dana setiap saat. Sistem wadiah Bank tidak diwajibkan, namun diperbolehkan, memberikan bonus kepada nasabah. Bank Muamalat Indonesia-Shahibul Maal.
Deposito Mudharabah, nasabah menyimpan dana di Bank untuk jangka waktu tertentu. Keuntungan berinvestasi pada dana nasabah oleh bank akan dibagi antara bank dan pelanggan dengan rasio bagi hasil tertentu.

Bagi hasil
Al-Musyarakah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model kemitraan atau joint venture. Laba akan dibagi menjadi rasio yang disepakati sedangkan kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki oleh masing-masing pihak.

Perbedaan mendasar dengan mudharabah adalah bahwa dalam konsep ini ada gangguan dalam pengelolaan manajemen sedangkan mudharabah tidak ikut campur.

Al-Mudharabah, adalah kesepakatan antara penyedia modal dan pengusaha. Setiap keuntungan yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan rasio tertentu yang disepakati. Risiko kerugian ditanggung sepenuhnya oleh Bank kecuali kerugian akibat salah urus, kelalaian dan penyimpangan nasabah seperti kecurangan, kecurangan dan penyalahgunaan.

Al-Muzara’ah, adalah bank yang menyediakan pembiayaan bagi pelanggan yang bergerak di bidang pertanian / perkebunan berdasarkan hasil bagi hasil panen.

Al-Musaqah, adalah bentuk muzara’ah yang lebih sederhana, di mana pelanggan bertanggung jawab penuh atas pelestarian dan pemeliharaan, dan sebagai imbalan, pelanggan berhak mendapatkan rasio tanaman tertentu.

Jual Beli
Bai ‘Al-Murabahah, adalah penyaluran dana dalam bentuk jual-beli. Bank akan membeli barang yang dibutuhkan oleh pengguna jasa kemudian menjualnya kembali kepada pengguna jasa dengan harga yang meningkat sesuai dengan margin keuntungan yang ditetapkan oleh bank, dan pengguna jasa dapat melunasi barangnya.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iklan tengah artikel --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:336px;height:280px" data-ad-client="ca-pub-9651047003144770" data-ad-slot="4548585143"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Besarnya angsuran rata sesuai kontrak awal dan jumlah angsuran = harga dasar plus margin yang disepakati. Contoh: harga rumah 500 juta, margin bank / laba bank 100 jt, kemudian membayar nasabah peminjam adalah 600 juta dan cicilan selama waktu yang disepakati antara Bank dan Nasabah.

Baca Juga:  6 Cara Meminjam Uang di Bank Syariah

Bai ‘As-Salam, Bank akan membeli barang-barang yang dibutuhkan di masa depan, sedangkan pembayaran dilakukan terlebih dahulu. Barang yang dibeli harus diukur dengan jelas dan ditimbang, dan penentuan harga pembelian didasarkan pada kepuasan penuh antara para pihak.

Contoh: Pembiayaan untuk petani dalam jangka pendek (2-6 bulan). Karena barang yang dibeli (misalnya beras, jagung, cabe) tidak dimaksudkan untuk dijadikan persediaan, bank tersebut melakukan kontrak bai ‘as-salam kepada pembeli kedua (misalnya Bulog, pedagang pasar grosir, pedagang grosir). Contoh lainnya adalah produk garmen, yaitu antara penjual, bank, dan mitra yang direkomendasikan vendor.

Bai ‘Al-Istishna’, adalah bentuk As-Salam khusus dimana harga barang dapat dibayarkan berdasarkan kontrak, dibayar cicilan, atau dibayar di masa depan. Bank mengikat masing-masing pembeli dan penjual secara terpisah, tidak seperti As-Salam dimana semua pihak diikat sejak awal. Dengan demikian, pihak bank sebagai pihak yang membawa barang tersebut bertanggung jawab kepada pelanggan atas kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan dan garansi yang timbul dari transaksi tersebut.

Al-Ijarah adalah kontrak pengalihan hak atas barang dan jasa melalui pembayaran uang sewa, tanpa diikuti dengan pengalihan kepemilikan barang itu sendiri.

Al-Ijarah Al-Muntahia Bit-Tamlik bersama dengan ijarah adalah kontrak pengalihan hak atas barang dan jasa melalui pembayaran uang sewa, namun pada akhir masa sewa transfer kepemilikan sewa.

Jasa
Al-Wakalah adalah kontrak transaksi Bank syariah, yang merupakan kontrak (representative) sesuai dengan prinsip-prinsip yang diterapkan dalam syariah Islam.

Al-Kafalah adalah untuk memberikan jaminan yang diberikan oleh perusahaan asuransi kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung, dengan kata lain mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan memegang tanggung jawab orang lain sebagai jaminan.

Al-Hawalah adalah kontrak pengalihan yang dalam praktiknya menghapus hutang dari tanggungan orang yang berhutang kepada orang yang berkewajiban membayar hutang (misalnya: badan pengambilalihan dari hutang).

Ar-Rahn, adalah kontrak transaksi Bank syariah, yang merupakan kontrak gadai sesuai dengan syariah.
Al-Qardh adalah salah satu kontrak yang terkandung dalam sistem Bank syariah yang tidak lain adalah memberikan pinjaman baik dalam bentuk uang maupun lainnya tanpa mengharapkan imbalan atau bunga (riba secara tidak langsung berniat untuk tolong bantuannya tidak komersial.

Tingkat pertumbuhan Bank syariah di tingkat global tidak diragukan lagi. Aset lembaga keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata di atas 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume bisnis Bank syariah dalam lima tahun terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun.

Pada tahun 2005, bank syariah Indonesia membukukan laba sebesar Rp 238,6 miliar, naik 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu, Indonesia yang memiliki potensi pasar Bank syariah sangat luas, masih tertinggal jauh dari Malaysia.

Baca Juga:  6 Cara Meminjam Uang di Bank Syariah

Laju pertumbuhan Bank syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha Bank syariah selama lima tahun terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun.

Tahun 2005, Bank syariah Indonesia membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu, Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk Bank syariah, masih tertinggal jauh di belakang Malaysia.

Tahun lalu, Bank syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272 juta dollar AS). Akhir Maret 2006, aset Bank syariah di negeri jiran ini hampir mencapai 12 persen dari total aset Bank nasional. Sedangkan di Indonesia, aset Bank syariah periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset Bank. Bank Indonesia memprediksi, akselerasi pertumbuhan Bank syariah di Indonesia baru akan dimulai tahun ini.

Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan pada Bank syariah, serta hadirnya investor-investor baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan Bank syariah, Adiwarman Azwar Karim, berpendapat, perkembangan Bank syariah antara lain akan ditandai penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah.

Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, menyambut penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah investor dari negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi menjadi bank syariah.

Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500 miliar dan Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global.

Adanya Bank syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tujuan mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk mengambil prinsip kehati-hatian.

Apabila dilihat dari segi ekonomi dan nilai bisnis, ini merupakan terobosan besar karena penduduk Indonesia 80% beragama Islam, tentunya ini bisnis yang sangat potensial. Meskipun sebagian orang Islam berpendapat bahwa bunga bank itu bukan riba tetapi faedah, karena bunga yang diberikan atau diambil oleh bank berjumlah kecil jadi tidak akan saling dirugikan atau didzolimi, tetapi tetap saja bagi umat Islam berdirinya bank-bank syariah adalah sebuah kemajuan besar.

Sistem Bank syariah di Indonesia masih berinduk pada Bank Indonesia. Idealnya, pemerintah Indonesia mendirikan lembaga keuangan khusus syariah yang setingkat Bank Indonesia, yaitu Bank Indonesia Syariah.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- iklan bawah --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:300px;height:250px" data-ad-client="ca-pub-9651047003144770" data-ad-slot="6938411931"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *