Dasar Hukum Asuransi Syariah

Dasar Hukum Asuransi Syariah di Indonesia – Ada berbagai macam produk keuangan yang telah hadir dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, salah satunya adalah asuransi. Dilihat dari definisinya dan ekuivalennya dalam bahasa Indonesia, asuransi memiliki arti “asuransi” dimana artinya akan ada pertanggungan jika kita menggunakan produk keuangan asuransi.

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Asuransi, asuransi merupakan kesepakatan antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar pendapatan premi oleh perusahaan asuransi sebagai gantinya:

Memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis atas kehilangan, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau kewajiban kepada pihak ketiga mana pun yang diasuransikan dapat menderita atau pemegang polis karena terjadinya kejadian yang tidak pasti; atau Memberikan pembayaran berdasarkan kematian tertanggung atau pembayaran berdasarkan umur tertanggung dengan tunjangan yang telah ditentukan dan / atau berdasarkan hasil pengolahan dana.

Besarnya tunjangan dan tunjangan asuransi dalam penggunaan produk asuransi tidak serta merta menarik minat banyak kalangan asuransi. Namun, seiring dengan gencarnya promosi atau sosialisasi tentang manfaat menggunakan produk asuransi keuangan maka permintaan lebih lambat lagi.

Meski saat ini para penggemar asuransi masih sedikit tapi sekarang ada juga banyak orang yang mulai ingin mengetahui berbagai manfaat dan menggunakan produk asuransi keuangan. Apalagi bila pilihan Takaful (halal) selain asuransi konvensional yang pertama ditawarkan.

Dasar hukum asuransi syariah
Dasar hukum asuransi syariah

Seperti namanya, asuransi Syariah memang merupakan asuransi yang dikelola dengan menggunakan dasar hukum syariah atau hukum Islam. Seperti yang bisa diketahui, manajemen keuangan berbasis syariah atau hukum Islam akan memastikan bahwa asuransi Syariah adalah halal dan aplikasinya didasarkan pada hukum Islam sehingga sangat aman untuk digunakan oleh umat Islam pada khususnya.

Berdasarkan definisi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Asuransi, Takaful adalah kumpulan kesepakatan, yang terdiri dari kesepakatan antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan kesepakatan antara pemegang polis, dalam konteks pengelolaan iuran berdasarkan prinsip syariah untuk membantu dan melindungi satu sama lain.

Memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis atas kehilangan, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau kewajiban kepada pihak ketiga mana pun yang dapat dipatuhi oleh peserta atau pemegang polis karena peristiwa yang tidak pasti; atau Memberikan biaya berdasarkan kematian peserta atau pembayaran berdasarkan umur peserta dengan jumlah tunjangan yang sudah ada dan / atau berdasarkan hasil pengelolaan dana.

Cukup mirip dengan definisi asuransi dari UU No. 40 tahun 1992 tentang Asuransi, menurut Dewan Syariah Nasional sebagai badan yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia yang memiliki tugas dalam mengawasi pelaksanaan asuransi syariah, Takaful (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah upaya dan bantuan perlindungan bersama di antara beberapa orang melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru ‘yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui kontrak (pertunangan) sesuai dengan syariah.

Karena asuransi syariah memiliki kontrak yang harus sesuai dengan syariah maka kontrak yang disepakati tidak boleh mengandung gharar (penipuan), maysir (judi), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan tidak bermoral. Dari kesepakatan dan keputusan yang dikeluarkan oleh mayoritas ulama di Dewan Syariah Nasional, Takaful adalah asuransi halal yang menggunakan prinsip kebersamaan, membantu dan mengasumsikan beban dan risiko bersama sehingga komersial atau keuntungan bukanlah hal yang utama yang harus diperoleh.

Ekonomi Syariah
Berdasarkan uraian dan kesepakatan di atas dan keputusan ulama sebagai dewan pengawas dalam pelaksanaan asuransi syariah, ada beberapa hukum dasar Islam dari sumber Al-Qur’an, Hadis dan pendapat mayoritas ulama yang dijadikan landasan dan asas dalam implementasi asuransi syariah Berikut ini bisa dijelaskan berdasarkan beberapa aspek yang harus terkandung dalam Asuransi Takaful yang sesuai dengan peraturan dan hukum Islam, seperti:

Resiko
Dalam asuransi Takaful, dana dikelola dan risiko dibebankan atau dibagikan ke semua pihak, baik peserta asuransi maupun perusahaan. Asuransi syariah memiliki prinsip dasar untuk saling membantu, membantu, saling menjamin dan bekerja sama dalam mengelola dana. Jadi risiko yang dihadapi dalam pengelolaan Takaful jauh lebih kecil karena ditanggung bersama.

Pengelolaan dana
Dana yang dikelola oleh asuransi syariah lebih transparan dan keuntungan yang diperoleh akan dibagikan kepada pemegang polis asuransi dan perusahaan atau sistem bagi hasil. Dengan demikian, pada perusahaan asuransi syariah dan peserta asuransi akan sama-sama menguntungkan sehingga dalam asuransi syariah, ketidaksetaraan sangat jauh tidak ada karena keuntungan yang diperoleh perusahaan dan peserta adalah asuransi bersama. Tujuan komersial asuransi Takaful bukanlah hal yang utama tapi yang umum adalah prioritas utama.

Akad atau Keterlibatan
Kontrak atau perjanjian yang digunakan dalam asuransi syariah didasarkan pada perjanjian hibah, bukan perjanjian perdagangan. Jadi tujuan komersial untuk keuntungan bukanlah dasar utama dalam pelaksanaan Takaful. Ada dua perjanjian atau pertunangan di Asuransi Takaful yaitu Perjanjian Tijarah atau Mudharabah, akad untuk tujuan komersial dan akad tabarru ‘atau akad hibab yang memiliki tujuan kebaikan dan pertolongan dan tidak diprioritaskan pada tujuan komersial.

Dana yang Dimiliki
Dana dalam asuransi syariah dimiliki bersama (semua peserta asuransi) dan perusahaan asuransi hanya mendanai pengelola saja. Ini karena prinsip dan dasar hukum asuransi syariah hanya merupakan badan usaha yang berguna sebagai kolektor dan pengelola dana tanpa memiliki tujuan komersial sendiri.

Keuntungan
Jika ada keuntungan yang cukup besar maka dalam asuransi syariah diuntungkan semua peserta asuransi dan perusahaan asuransi atau terbagi secara adil (berdasarkan prinsip ekonomi syariah, sistem bagi hasil).

Kewajiban zakat
Seperti diketahui bahwa asuransi Syariah adalah asuransi yang menerapkan hukum Islam dalam pelaksanaannya, maka zakat adalah kewajiban bagi semua peserta Takaful. Jumlah zakat yang harus dibayar oleh peserta atau perusahaan asuransi disesuaikan dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan, otomatis semua peserta asuransi akan membayar zakat sesuai dengan tekad perusahaan.

Pengawasan
Entitas yang berhak dan ditunjuk sebagai atasan dalam pelaksanaan asuransi syariah adalah Dewan Syariah Nasional (DSN) yang merupakan formasi langsung Majelis Ulama Indonesia. Semua perusahaan asuransi syariah harus mematuhi fatwa atau undang-undang yang ditetapkan oleh DSN ini.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *