6 Larangan Sistem Perbankan Syariah

6 Larangan Sistem Perbankan Syariah – Sistem adalah seperangkat elemen yang secara teratur saling berhubungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan ekonomi itu sendiri adalah tentang produksi, konsumsi, dan distribusi. Hal ini terkait dengan kegiatan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan.

Jadi sistem ekonomi adalah sistem ekonomi merupakan penghubung antara kegiatan ekonomi seperti, produksi, konsumsi, dan distribusi yang tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran di masyarakat.

Sementara syariah itu sendiri berarti semua ajaran Islam adalah nilai ilahi, sesuai dengan norma yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem perbankan syariah merupakan alat reguler yang saling terkait dalam hal ini adalah produksi, konsumsi dan distribusi yang bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mencapai kemakmuran dan kemakmuran di masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sistem perbankan syariah sendiri merupakan nama lain dari sistem ekonomi Islam. Sistem perbankan syariah adalah sistem ekonomi yang berbeda dengan sistem ekonomi tradisionalis, kapitalis (bebas), sosialis (komando) dan campuran.

Sistem ekonomi sendrii memiliki banyak jenis mulai dari yang tradisional, yaitu sistem ekonomi yang hanya ada produksi dan konsumsi, ini berarti jika mereka menginginkan barang maka mereka menghasilkan atau membuat barang sendiri yang mereka inginkan, jika tidak maka mereka melakukannya. barter.

Baik sistem ekonomi komando maupun sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi yang diatur oleh pemerintah, secara keseluruhan dan pemecahan masalah merupakan tanggung jawab pemerintah. Ketiga, sistem ekonomi pasar atau kapitalis adalah sistem ekonomi dimana pemerintah memberikan kebebasan penuh kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi, dan yang terakhir adalah sistem ekonomi campuran yaitu sistem ekonomi fusi antara sistem ekonomi pasar dan komando. sistem ekonomi, dimana sistem ekonomi menggabungkan kedua keunggulan dan mengurangi kelemahan keduanya.

Baca Juga:  3 Kegiatan Usaha Bank Syariah dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Sistem perbankan syariah tidak hanya memberikan kesejahteraan rakyat di dunia tapi akhirat juga karena didasarkan pada Alquran dan Sunnah. Sedangkan sistem perbankan syariah itu sendiri memiliki karakteristik persatuan, keseimbangan, kebebasan dan tanggung jawab. Kesatuan itu berarti bahwa manusia yang hidup berdampingan bukan manusia bisa hidup sendiri, untuk mencapai tujuan manusai yang diharapkan bisa melakukan kerjasama dalam hal ini adalah bersatu dalam mencapai suatu tujuan.

Yang kedua adalah keseimbangan, yaitu keseimbangan antara pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan ekonomi, yang dimaksudkan antara pelaku ekonomi harus mendapatkan kepuasan yang seimbang tidak hanya di satu sisi saja, jadi bukan pelaku ekonomi antarkota satu sisi. Selanjutnya adalah kebebasan pelaku ekonomi dalam melakukan kegiatan ekonomi, kebebasan dalam hal ini bebas yang batasnya tidak keluar dari norma agama menurut Al Qur’an dan sunnah.

Dan yang terakhir adalah tanggung jawab, dalam melakukan kegiatan ekonomi, pelaku ekonomi harus bertanggung jawab atas apa yang dialkukannya dalam kegiatan ekonomi, setidaknya apa keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

6 Larangan Sistem Perbankan Syariah

larangan perbankan syariah
larangan perbankan syariah

Prinsip sistem perbankan syariah sendiri terbagi dalam enam batasan yang dijelaskan di bawah ini:

1. Larangan Maysir
Itu adalah perjudian berjudi untuk mendapatkan harta tanpa banyak usaha dengan merugikan orang lain. Memang dalam Islam tidak dianjurkan untuk bermalas-malas. Allah juga mengatakan kepada umatnya bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi atau keadaan seseorang kecuali dia sendiri yang mengubahnya. Dari sini dilarang bila seorang Muslim mencari rezeki atau harta karun melalui cara yang salah yang mengecualikan Tuhan.

2. Ban Gharar
Itu adalah larangan melakukan kecurangan, dalam ekonomi yang curang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih. Penipuan adalah salah satu aib. Jika ada pihak yang melakukan kecurangan untuk mendapatkan keuntungan maka harta benda mereka kotor dan akan membuat pihak tidak nyaman dan pasti akan kehilangan uang. Dalam Islam ini juga sangat dilarang karena dengan kecurangan ini akan merugikan banyak pihak baik pembeli maupun pihak yang melakukan kecurangan.

Baca Juga:  10 Jenis Reksa Dana Syariah Menurut OJK

3. Larangan melakukan perbuatan haram
Jelas bahwa di dalam Al Qur’an dan sunah dilarang melakukan haram. Hal-hal yang tidak sah tidak diperbolehkan dalam Islam. Apalagi dalam kegiatan ekonomi, jika aktivitas atau aktivitas terlarang dilakukan dalam perekonomian maka arus ekonomi akan melambat dan malah hancur tidak ada pembangunan.

4. Larangan Dzalim
Itu adalah larangan untuk menyakiti orang lain dan menyakiti orang lain. Dalam menjalankan kegiatan ekonomi sebaiknya hindari hal-hal yang bisa merugikan atau menyakiti orang lain. Karena hal ini akan terjadi ketidakseimbangan natara satu sama lain.

5. Larangan Ikhtikar
yaitu larangan menimbun barang tertentu untuk keperluan tertentu dan akan dijual kembali saat harganya melonjak. Menimbun harta karun akan membuat pihak lain akan menderita karena barang yang dibutuhkan akan menjadi stok minimal sehingga banyak pihak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

6. Larangan Riba
Itu adalah larangan untuk tambahan transaksi dimana jika saat ini disebut bunga, itu tidak diperbolehkan. Riab dilarang keras karena tidak hanya merugikan orang lain tapi bisa melukai diri sendiri. Dengan kehidupan riba akan resah dan takut selain itu riba juga akan bisa membuat darah manusia kotor.

Dalam ekonomi syariah atau sistem perbankan syariah dikenal sebagai bentuk kerjasama. Bentuk kerja sama sistem ekonomi syariah terbagi menjadi empat yaitu:

Mudharabah (Modal 100% dari pemilik modalnya)
Mudharabah adalah kemitraan antara dua pihak dimana modal usaha adalah seratus persen dari pemilik modal, yang lain bertindak sebagai manajer bisnis. Jadi, pemilik modal memberi bibit dan juga tanah, disini pengelola bisnis bertugas menanam dan merawat tanah, jika beruntung kemudian dibagi sesuai kesepakatan, jika kerugian ditanggung oleh pemilik modal, asalkan tidak kesalahan manajer bisnis (Baca juga: sumber dana bank syariah)

Baca Juga:  Pengertian Ekonomi Syariah, Tujuan, Prinsip dan Cirinya

Musyarakah (Sama dengan pembagian modal kerja)
Disini modal usaha diperoleh dari masing-masing pihak yang bekerja sama. Ini lebih mudah diimplementasikan karena profit dan loss terjadi bersamaan dengan syarat atau kesepakatan yang telah dibuat dan disepakati sebelumnya. Sebuah kerjasama mau tidak mau harus dilaksanakan, karena dengan tujuan ekonomi kooperatif ini akan tercapai, terutama tujuan nafas islam dan sesuai dengan nilai syariah.

Al Muzara’ah (sama seperti Mudharabah, tapi konteksnya di bidang pertanian)
Al Muza’arah adalah sebuah kolaborasi antara dua pihak atau lebih yang berfokus pada budidaya lahan pertanian, yaitu antara pemilik tanah dan pekerja yang bekerja di pertanian. Pemilik tanah memberi benih dan lahan untuk ditanam dan dirawat, panen akan dibagi antara keduanya dengan persentase yang telah dibahas dan disepakati.

Dengan perbankan syariah ini akan memberikan bantuan modal bagi orang-orang yang ingin bergerak di bidang pertanian, dengan prinsip berbagi hasilnya. Kita tahu bahwa pertanian memiliki masalah yang kompleks dimana perbankan syariah harus selalu waspada dan menyiapkan semua inovasi baru untuk menghindari petani yang ditinggalkan.

Al Muzaqah (sama seperti Muzara’ah bagaimanapun, manajer hanya bertanggung jawab merawat tanamannya)
Al Muzaqah adalah bentuk kerja sama yang lebih sederhana dari Al Muza’arah, yaitu pekerja tanah hanya bertanggung jawab untuk menyiram dan memelihara tanaman yang ditanam.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *