3 Kegiatan Usaha Bank Syariah dalam Undang-Undang Republik Indonesia

3 Kegiatan Usaha Bank Syariah dalam Undang-Undang Republik Indonesia – Bank syariah adalah salah satu aset perbankan Indonesia, yaitu lembaga keuangan yang kegiatan atau ketentuannya berdasarkan pada nilai atau hukum Islam. Setiap institusi harus memiliki kegiatan, baik yang diprogramkan ke dalam undang-undang maupun independen.

Demikian juga dengan Bank Syariah ini memiliki beberapa bentuk kegiatan usaha yang terkumpul dalam Undang-undang Republik Indonesia no. 21 tahun 2008, tepatnya di pasal 19.

3 Kegiatan Usaha Bank Syariah dalam Undang-Undang Republik Indonesia
3 Kegiatan Usaha Bank Syariah dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Di pasal 19 dijelaskan bahwa kegiatan usaha Bank Syariah meliputi 3 kegiatan utama yaitu pengumpulan dana masyarakat, dana langsung maupun tidak langsung, dan jasa. Dari ketiga mata pelajaran tersebut akan dikembangkan beberapa kegiatan, antara lain:

1. Kumpulan dana masyarakat
Dalam kegiatan penggalangan dana ini, Bank Syariah menyelenggarakan beberapa program atau kegiatan yang meliputi:

Kumpulkan dana dalam bentuk tabungan berupa giro, tabungan atau dalam bentuk lain. Semua bentuk penyimpanan dana tersebut harus disamakan dan disesuaikan dengan nilai syariah harus didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi Islam yaitu akad wadi’ah.

Yang dimaksud dengan wadiah adalah deposit yang dilakukan oleh satu orang ke pihak lain baik dalam lingkup individu atau badan hukum dan harus dipelihara dan dikembalikan ke pihak yang dipercayakan.

Anda perlu tahu bahwasannya akad wadiah terbagi menjadi dua yaitu wadiah ya dhamanah dan wadiah ya amanah. Untuk dhamanah barang atau apapun yang dipercayakan bisa digunakan atau dimanfaatkan oleh pihak yang diberi deposit, sedangkan untuk trustah adalah kebalikan dari wadiah ya dhamanah yaitu barang atau barang yang dipercayakan harus dijaga dengan baik tanpa diijinkan untuk menggunakan atau menggunakannya.

Pengumpulan dana dalam bentuk investasi berupa tabungan, deposito berjangka, giro atau bentuk lain yang penting didasarkan pada salah satu kontrak Ekonomi Syariah yaitu kontrak mudharabah.

Baca Juga:  Pengertian Ekonomi Syariah, Tujuan, Prinsip dan Cirinya

Yang dimaksud dengan perjanjian mudharabah adalah kesepakatan kerja sama antara kedua belah pihak, dimana pihak pertama menjadi ibu kota penyedia modal dan pihak kedua menjadi pengelola modal.

Anda perlu tahu bahwasannya akad mudharabah terbagi menjadi tiga yaitu mudharabah muthlaqah, muqayyadah, dan musyatarakah. Mudharabah mutlaqhah adalah kerja sama yang disepakati bersama dimana pengelola dana diberi kewenangan penuh untuk mengelolanya.

Namun, jika mudharabah muqayyah adalah salah satu jenis kesepakatan yang disepakati bersama dimana pemilik modal membatasi ruang pengelola dana dalam mengelola dana. Dan mudharabah musharabah adalah kesepakatan atau kesepakatan yang disepakati bersama dimana pengelola dana diperbolehkan untuk memasukkan modal dalam kegiatan investasi.

2. Penyaluran dana
Kegiatan usaha distribusi dana ini fokus pada tiga aspek penting, yaitu penjualan dan pembelian, sewa dan investasi.

Jual dan Beli
Pembelian dan penjualan yang dilakukan di Bank Syariah berbeda dengan pembelian dan penjualan pada umumnya, dimana aktivitas jual beli dapat diimplementasikan dengan 3 skema, yaitu skema salam, murabahah dan istshna ‘.

Dalam penjualan dan pembelian murabahah penjual memperoleh keuntungan dari kesepakatan bersama antara pembeli dan penjual. Jika bank syariah adalah penjual adalah Bank Syariah dan pembeli adalah nasabah.

Sedangkan untuk skema salam pembayaran gaji harus dilaksanakan sebelum barang atau produk tersebut sampai ke tangan pembeli. Dan skema istishna ‘adalah penjualan dan pembelian dimana penjual menerapkan apa yang diminta pembeli dapat dibilang pembeli merupakan salah satu fokus utama bagi penjual.

Menyewa
Rental merupakan salah satu jenis kegiatan yang dilakukan oleh bank syariah. Dimana sewa di sini memiliki dua skema yaitu skema ijarah dan muntahiyah bittamlik. Skema ijarah adalah penyalahgunaan barang atau produk dalam waktu tertentu tanpa adanya pengalihan kekuasaan atau kepemilikan.

Baca Juga:  Sumber Dana Bank Syariah

Sedangkan sewa dengan skema muntahiyah adalah sewa yang terdiri dari kombinasi uang sewa dan penjualan, dimana barang atau barang sewaannya akan dijual pada akhir masa sewa.

Investasi
Investasi di Bank Syariah dapat dilakukan dengan dua skema atau kontrak, yaitu mudarabah dan musyarakah. Dimana kalau pengelola dana mudharabah punya hak dan kewenangan untuk menggunakannya, tapi kalau musyarakah sang manajer dibatasi oleh pengawasan pemilik modal.

3. Layanan
Untuk jenis bisnis ini, bank syariah murni memberikan layanan kepada pelanggan dan masyarakat luas, antara lain:

Melaksanakan pengambilalihan atau penyerahan hutang berdasarkan prinsip syariah ekonomi dalam bentuk kontrak hawalah.

Melaksanakan dan pengadaan kartu debit atau kartu pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Melakukan pembelian, penjualan dan memberikan jaminan kepada pihak ketiga atas risiko yang timbul dari surat berharga yang diterbitkan dalam transaksi real dan tentu saja berdasarkan beberapa prinsip syariah seperti ijarah, musyarakah, mudharabah, kafalah dan lain-lain.

Melaksanakan pembelian surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang berlaku yang tentu saja dikeluarkan oleh pihak yang berwenang seperti pemerintah atau Bank Indonesia.

Menerima pembayaran tagihan dari surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga untuk menyamakan persepsi dan harus didasarkan pada prinsip syariah.

Menetapkan sistem atau program kustodian dalam bentuk apapun sesuai dengan kepentingan pelanggan berdasarkan undang-undang sesuai dengan prinsip syariah yang berlaku.

Mempersiapkan dan menyediakan tempat atau tempat penyimpanan barang dan surat berharga berdasarkan prinsip syariah.

Melakukan aktivitas transfer uang demi kepentingan pribadi dan kepentingan yang dimiliki oleh pelanggan dan tentunya harus berdasarkan prinsip syariah.

Melamar atau melakukan fungsi sebagai pihak yang menjadi wali berdasarkan kontrak wakalah.

Berikan fasilitas berupa letter of credit atau dalam bentuk bank yang memberikan jaminan berdasarkan prinsip syariah yang baik.

Baca Juga:  6 Larangan Sistem Perbankan Syariah

Pada dasarnya, bank syariah memiliki hak dan kewenangan untuk melaksanakan program atau kegiatan ekonomi atau perbankan, namun harus menjaga nilai dan prinsip syariah yang dimiliki oleh Bank Syariah.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *